Langsung ke konten utama

Perkebunan Orang Jahat

Setiap hari selalu ada masalah-masalah baru. Aku dan orang-orang sini hidup dalam laporan berita tidak baik. Tapi asal kalian tau, berita itu sering disiarkan kemudian hilang begitu saja. Berkali kali sudah terjadi. Tau mengapa? Akan kuberitahu kalian bahwa uang adalah segalanya. Dengan uang kita akan mempunyai kekuasaan. Dengan uang kita juga akan membangun hidup bebas. Bebas menanam, bebas merawat, bebas memakan hasil panen.


Aku dan orang-orang sini adalah pelaku. Mafia terbesar di benua ini. Pekerjaanku hanya mengawasi dan memberi hukuman. Jika ada yang menghalangiku, ketahuilah orang itu tidak akan selamat. Mafia ini sudah ada sejak dulu. Bahkan sejak aku kecil. Dan sekarang, mafia ini sudah memiliki jaringan yang luas. Bersembunyi dalam arus manusia. 


Kalian bebas menganggap kami apa. Kami tidak menghiraukannya, pikiran kami hanya tertuju pada kejayaan mafia kami. hanya itu. Tapi jika ada yang ingin memberi kata-kata indah pada kami. Silakan. Kami menghormati penyair-penyair ternama dari seluruh dunia. 


Di dunia ini, kita bebas melakukan apa saja. Norma dan hukum tidak berlaku bagi mereka yang menginginkan kebebasan. Pejabat itu orang bodoh. Mengapa kalian ikuti orang yang selalu mengatakan kata-kata sampah agar mendapat pembelaan rakyat? orang penuh kebusukan itu pantas dibuang kedalam kubangan air kotor. 


Bagi kami, pejabatlah musuh terbesar dunia ini. Mereka mengganggu kebebasan kami. Tipu daya mereka selalu menghalangi jalan kami sebagai otak penggerak duniawi. Maka dari itu, kami menciptakan bibit baru.


Seperti halnya bertani, kami mempunyai jutaan bibit siap panen untuk melawan kekuasaan yang mengganggu kami. Bibit-bibit itu kami rawat dan kami latih. Kemudian dari hasil itu, mereka akan tumbuh berkembang dengan baik dan mempunyai mental kuat. Satu dari mereka bisa melawan 10 musuh sekaligus. Sungguh luar biasa bukan? 


Mafia ini akan terus bergerak dalam balik sudut-sudut setiap kota di berbagai negara. Setiap kelompok akan melakukan tugasnya. Ada yang menjadi perompak, pramusaji restoran, bahkan menjadi pembunuh bayaran. Semua itu dilakukan hanya karena satu tujuan. Kebebasan. Jika kalian ingin menemui kami, carilah orang yang mengetahui pesan William Faulkner. 


“Kita harus bebas bukan karena kita menuntut kebebasan, tapi karena kita mempraktikkannya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Edelweis

Hanya suara musik yang menemaniku malam ini. Untuk kesekian kalinya, aku memilih untuk melakukan ini daripada apa yang banyak orang lain lakukan. Kutatap lalu lalang isi kota yang membosankan ini. Suara mobil dan motor dimana-mana, beberapa pekerja berlari pelan tidak sabar ingin pulang, beberapa orang juga bersenang-senang dengan kekasihnya. Aku merasa iri. Ku minum secangkir kopi yang aku pesan tadi. Cafe ini benar-benar menjadi tempat ternyaman bagiku. Berada di sisi kota dengan bersembunyi pada bangunan toko buku berlantai dua. Lantai satu untuk toko buku dan lantai dua untuk cafe ini. Konsep ruangannya mengikuti gaya autentik eropa dengan dihiasi pernak-pernik indah. Namun, ada satu yang membuatku menyukai cafe ini. Terdapat bunga edelweis yang sangat indah disini. Bunga itu ditaruh di meja dekat jendela luar. Menurutku, bunga itu bukan hanya sebagai hiasan, namun juga dapat mendekatkanku pada jejak-jejak yang kamu tinggalkan.  Seminggu ini hidupku sudah tidak bisa seperti dul...

Ventilasi Rumah Tua

Semua manusia mempunyai cerita masing-masing. Bebas melakukan apa saja. Mau bermain, tidur, sampai melakukan kejahatan pun boleh dilakukan setiap manusia. Akhir-akhir ini, aku selalu berpikir seperti itu. Namun pikiran itu lenyap setelah istriku datang membawa teh hangat. Aku tersenyum menatapnya. Lantas berterimakasih. “Ada apa?” Istriku bertanya. “Tidak ada apa-apa, hanya saja aku merasa bersyukur masih bisa melihat pemandangan sore yang indah ini” Istriku menatap keluar “Sungguh indah” Istriku tersenyum kemudian kembali masuk kedalam rumah. Di saat aku bersandar bersantai membaca koran tiba-tiba aku mendengar suara samar-samar dari rumah tua di ujung pedesaan. Suara rintihan kesakitan. Suara tangisan. Suara meminta tolong.   Ya, aku menyadari. Sepertinya itu suara seorang gadis. Aku harus kesana. Ku letakkan kembali koran di meja. Sekilas ku lirik teh hangat buatan istri ku yang belum aku minum sejak tadi. Maafkan suami mu ini ya, aku berjanji setelah pulang aku akan meminumnya ...